Negeri ini mungkin berlimpah kekayaan alam, namun "miskin" dalam menghargai proses intelektual. Ini terjadi sebab ada kecacatan logika: kita lebih terbiasa memuja "benda mati" daripada menghargai "benda hidup" yang menciptakannya. Kadang orang bangga memamerkan mobil (benda mati), tapi merasa "rugi" membayar mahal untuk ilmu dan ketelitian seorang teknisi (benda hidup) yang memastikan mobil itu tidak mogok. Ketika membayar teknisi, kita membayar jam terbang, sekolah, keringat, dan insting manusia tersebut. Banyak yang berpikir "kan cuma ngecek mesin sebentar", padahal yang kita bayar adalah keahlian teknisi untuk mengetahui di mana letak kerusakannya hanya dalam hitungan detik. Itulah proses intelektual yang sering dihargai nol.
Kita sering menganggap proses intelektual itu seperti dosen yang mengajar mahasiswa atau akademisi yang berhasil merampungkan kuliahnya. Padahal teknisi mobil yang mampu membenahi mobil juga bagian dari proses intelektual. Sekali lagi, kita sering meletakkan penghormatan tertinggi pada hasil akhir yang berbentuk fisik, bukan pada keringat intelektual yang menjadi "nyawa" dari benda tersebut.
Suka atau tidak, sistem pendidikan kita menyumbang budaya fenomena itu. Pendidikan kita terlalu mekanistis, hanya fokus pada hafalan dan keterampilan teknis demi memenuhi syahwat industri ( link and match). Di ruang kelas pelajaran seni, budaya, akhlaq dan humaniora sering dianaktirikan, karena dianggap tidak menghasilkan apa-apa. Padahal kita tidak bisa hidup hanya dengan benda mati. Kita butuh seni. Misalnya dalam rumah tangga secara materi mungkin semua tercukupi, tapi jika salah satu pasangan tidak memiliki "seni" dalam menghargai atau "seni" dalam mencintai, rumah tangga akan menjadi hampa. Secara fisik mungkin utuh, tapi secara batiniah ia kosong dan gersang.
Setelah kita lantang menyuarakan keadilan bagi kreator, mari menilik kembali jemari sendiri; jangan sampai ia masih gemar memetik bunga di kebun kawan tanpa meninggalkan benih penghargaan.
Muhammad Shabiq Bisri
Ketua Hipmi Syariah Jawa Tengah
